Monday, May 25, 2015

First Anniversary

Telat ya? Biarin deh hihii.

Beberapa minggu sebelum 18 Mei sebenernya gw udah mulai memikirkan "perayaan" 1 tahun pernikahan kami.
Mulai dari cari-cari ide di pinterest, googling first anniversary biasanya ngapain, sampe tanya-tanya ke temen.

Idealnya sih merayakan first anniversary bertiga di suatu tempat. Pergi menginap sehari dan asik berlibur. Ya tapi gak mungkin sih. *lirik bayi*

Terakhir, gw mau beli jam tangan couple aja biar sweet. Maksudnya jam tangan = waktu kebersamaan. Jadi pernikahan itu tentang waktu yg dihabiskan bersama. Ceilah. Ya gitu, deh.

Tapi, setelah cari-cari sana sini, ternyata jam tangan couple yg kece tuh gak murah ya, bo. Bisa abis hampir 5 juta. Ulalaaaa. Secara gw waktu itu lagi mikir-mikir beli sepatu aja seribu kali. Mending beli car seatnya Uwais aja deh.
Jadi gak beli jam tangan dehh. Haha.

Setelah itu gw putar otak, nah gw inget dulu gw suka ber-email-ria pas jaman pacaran, maklum sempet LDR gara-gara gw tinggal kuliah. Hihi.

Yak, gw putuskan untuk ber-email-ria dan ditutup dengan makan berdua romantis. That's more than enough.

Dan gagal, haha.

Pertama, email yg gw bikin gak selesai. Terlalu banyak yg ingin gw ungkapkan sampai akhirnya gak tertulis. Dengan seadanya gw kirim pun gak ada komentar dari sang suami. Jangan-jangan email gw ketumpuk sama email kerjaan yg bertubi-tubi itu?! T.T

Kedua, makan malam berdua kami di warung tenda depan kompleks, bukan di fancy restaurant yg super-mahal-dengan-lilin-dan-dressup. Tapi bagi gw itu adalah makan malam yg sangaaaaat berkesan. Karena sejak punya anak, rasanya kami jarang menikmati makan berdua. Satu hal yg bagi gw agak fail, kami makan malam jam 9 malam dimana Uwais udah bobo dan dititipkan ke mbak asisten (yg belom berani gendong Uwais). Alhasil, selama di warung tenda dan sampai rumah (kami pergi gak lebih dari setengah jam), kami hanya diam dan sama-sama khawatir apakah Uwais bangun atau tidak.
Haha.
Gak lagi-lagi deh ninggal anak kayak gitu. *mami posesif*

Alhamdulillah tetap bahagia dengan selebrasi yg seperti itu.
Mungkin kata orang itu jauh dari kata dan tindakan romantis, tapi bagi gw kualitas waktu yg kami coba luangkan sangat-sangat istimewa. Belom lagi setelah hari itu, rasanya jadi lebih sayang sama Hubby. Ehek ehek.

Wednesday, May 6, 2015

May The Fourth be With You

Uwais 4 bulan! Yeyyyy~
Alhamdulillah 4 bulan sudah terlewati. Uwais makin pinter banyak hal. Mulai dari senyum-senyum yg bikin menggoda, sampe bikin Bundanya gemesss.

Gak kerasa, hampir 6 minggu Uwais pake SNS, artinya selama itu pula Uwais minum ASI+Sufor. Sebenarnya selama sebulan pemakaian berat Uwais udah bisa masuk ke grow chart lagi. Instruksi dari dokter pun sudah harus dikurangi sufornya. Sebelum instruksi itu, gw berhasil mengurangi sufor sampai 150ml/hari (sebelumnya 300ml/hari). Seharusnya makin lama makin berkurang, tapi sesuatu terjadi dengan gw. Bukan secara medis sih, tapi secara mental gw stres. Masalahnya gak bisa gw ungkapin disini, tapi cukup membuat gw stres dan pastinya ngaruh ke ASI. Segala ASI booster yg gw minum, mulai dari dokter kayak domperidone dan nutriflam. Atau obat herbal misalnya mama soya, madu menyusui, hulbah, lactasip, sampai organic milkmaid tea yg impor sudah gw coba. Tapi memang booster paling ampuh adalah bahagia.

Suatu ketika gw pernah pergi sama hubby bertiga Uwais, hari itu ASI gw banyak banget. Sampe malamnya gw harus ganti bra saking ASInya bocor. Pernah juga kami duduk-duduk santai di suatu kafe, bertemu teman, bercengkrama. Dan kejadian serupa pun terjadi.

Apakah gw harus mencoba booster ASI merk herbal terkenal yg harganya 8 juta itu? Atau booster ASI lain yg harganya jutaan? Apakah sampe harus sebegitunya?

Saat ini gw sampai pada titik menyerah. Bukan karena gw gak mendapatkan booater ASI yg baik dan cocok. Tapi lebih ke masalah yg sedang gw hadapi yg justru memperburuk suasana hati. Percuma. Berapa pun domperidone yg gw minum. Berapa pun hulbah yg gw telan. Berapapun mamasoya yg gw tenggak. Akan kalah sama masalah ini.

Maaf ya Uwais, bukan Bunda gak mau berusaha. Bunda tetap minum obat-obat itu. Tapi rasanya Bunda belum siap kalau Uwais menjerit nangis kekurangan minum karena sufornya Bunda kurangi. Kepercayaan-diri Bunda jauuuuuh di bawah sana.

Tapi Uwais, senyuman Uwais adalah ASI dan mood booster paling ampuh bagi Bunda.
Sehat-sehat ya, nak.
Bunda sayang Uwais.

Friday, April 24, 2015

Babbling : After 3 Months

Setiap ibu pasti akan memberikan yg terbaik untuk anak dan suaminya. Istilahnya, mending ibu yg sakit deh daripada anak atau suami.
Saat ini gw lagi diuji lagi masalah breastfeeding. Setelah kombinasi tongue tied dan lip tied itu beres, gw harus mencampur ASI dengan sufor. How come??

Long story short, gw belom berhasil pasang kb IUD. Percayalah, gw udah beberapa kali nyoba pasang sampe bolak balik ke gynecologist.
Sampai akhirnya gynecologist gw putus asa dan menyarankan pake KB suntik. Gw udah berkali-kali tanya apakah ngaruh ke ASI, dan jawabannya gak ngaruh. Lalu apa yg terjadi? Gw pendarahan selama beberapa minggu, dan ASI gw drop.

KB suntik ternyata mempengaruhi ASI untuk orang-orang tertentu. Akhirnya gw harus mencari cara lain untuk menyusui Uwais. ASI gw tetep keluar, tapi gak cukup untuk kebutuhan Uwais sehari-hari. Ujungnya, gw balik ke Dr. Asti di KMC lagi. Setelah drama penjelasan dengan bolak balik masuk ruang dokter, akhirnya gw pun memutuskan pake SNS. Ini sebenarnya adalah metode untuk memancing ASI bagi ibu yg mengadopsi anak namun ingin memberikan ASI. kebanyakan ibu setelah tindakan insisi pada bayi tongue tied pun menggunakan alat ini. Tapi dulu gw gak pake karena Uwais masih dikatakan tumbuh dengan normal. Sedangkan yg pake ini biasanya bayi sudah berada di bawah garis minimum grow chart di usianya atau justru divonis gagal tumbuh.

Lalu Uwais gimana? Awalnya gw curiga karena Uwais bbnya naik gak signifikan ketika ke dr. Ayi. Memang sebelumnya Uwais sempat batuk-pilek selama dua-tiga hari. Tapi tetap aja kenaikan bb yg kurang dari normal ini bikin gw mikir ada sesuatu yg salah. Terlebih Uwais lebih rewel beberapa minggu belakangan. Setelah gw ke dr. Asti (untuk periksa radang di PD kiri), ketahuan lah kalo Uwais berada di luar jalur minimal di growchart-nya.

Hancur hatiku.
Seriously.

Dengan hati-hati dr. Asti menjelaskan masalah dan jalan keluarnya. Gw mengerti, beliau tidak ingin membuat gw terlalu khawatir sampai stres yg akhirnya berujung pada kuantitas ASI yg semakin sedikit. Tapi yg namanya seorang ibu, menerima kenyataan bahwa bayinya bisa dibilang kurang gizi dan harus di suplementasi dengan sufor (yg selama ini menjadi momok paling seram dalam per-breastfeeding-an) itu sangat sangat sangat sulit. Sulit untuk menahan air mata untuk gak nangis saat itu juga. Sulit untuk berpikiran positif agar Uwais tetap mendapatkan yg terbaik. Sulit untuk berdamai dengan diri sendiri, ketika semua tidak berjalan dengan rencana.


Apalagi ketika karena satu dan lain hal, gw sempat berantem dengan suami. Rasa kecewa dengan diri sendiri, rasa sedih, rasa tak mampu, dan segala pikiran negatif lainnya semakin menambah pilu. Gak pernah sedikitpun dalam pikiran gw bahwa gw akan menempuh jalan ini. Ya, gw pernah baca metode SNS ini. Tapi gak pernah gw bayangkan akan gw lakukan dengan Uwais.

Sungguh, keadaan saat itu jauh lebih berat ketika Uwais ketahuan tongue tied dan lip tied. Belum lagi drama merasa-tidak-dilibatkan ketika sampai di rumah. Seolah menambah beban gw. Gw masih belum percaya, masih sulit untuk menerima kenyataan, ditambah berantem sama suami, dan ditambah judgemental bahwa gw gak cerita soal perkembangan Uwais di rumah. Well, apa yg mau gw ceritakan jika gw aja baru tahu saat itu?
Stres. Tertekan. Menjadi satu.

Derai airmata gak bisa gw bendung. Gw benar-benar kecewa, sedih, takut, merasa gak mampu, dan merasa egois dihadapan Uwais. Terlebih suami dengan tegas gak mau memberikan sufor ke Uwais. Apa yg harus gw lakukan?

Alhamdulillah saat ini ada kakak ipar yg lagi tinggal di rumah. Gw sering berbagi informasi dan berdiskusi dengan kakak ipar gw ini. Ditengah tangis airmata gw, kakak ipar gw bilang :" sufor bukan racun, ki. Memberikan ASIX itu sebenarnya ego orang tua kan. Tapi ketika kenyataannya diluar kemampuan kita, dahulukanlah Uwais. Ini demi Uwais."

Dan gw pun tersadar. Gw harus memberikan yg terbaik untuk Uwais. Dalam hal ini memberikan suplementasi berupa sufor.

Gw harus memberikan 300ml/hari suplementasi. Dalam minggu pertama, gw bisa memberikan 50ml sufor dengan 250ml ASIP. minggu kedua 100ml sufor dengan 200 ASIP. minggu ketiga, full sufor karena ASIP gw habis. Lalu apakah semua berjalan lancar setelah minggu keempat ini?

BB uwais bisa ditargetkan mengejar ketertinggalan. Tapi nyatanya gak mudah memberikan sufor ke Uwais. Dia gak suka sama sufor. Satu sisi, baik sekali Uwais cuma suka ASI. Tapi disisi lain, buruk karena ASI gw sedikit. Jadi selama pemberian sufor, gw dan Uwais punya adegan tangis-menangis. Uwais yg nangis atau gw yg nangis.

Apa yg lebih buruk dari bayi yg hanya menginginkan ASI dari ibunya tapi gak bisa diberikan? Apa yg lebih buruk dari ibu yg memberikan sufor sebagai tambahan tetapi ditolak oleh bayi? Bayi gw hanya mau ASI. Titik.
Dia hanya mau mengkonsumsi sufor banyak jika sangat sangat haus. Sisanya entah berapa banyak sufor yg pada akhirnya gw buang.
Jujur aja, untuk target 300ml suplementasi berupa sufor itu sangat sulit bagi gw. Misalnya hari ini, sampai jam 2 siang Uwais masih menolak sufornya. Padahal biasanya pemberian suplementasi sufor gw lakukan dari jam 9 pagi sampai sebelum magrib. Dan gw pun cuma bisa menciumi Uwais yg menangis kelaparan.
Dengan ikut menangis juga.

Kata orang drama breastfeeding itu berakhir di bulan ketiga. Tapi bagi gw ternyata masih terus berlanjut. Tak mengapa, semua tangis dan kegalauan gw langsung sirna begitu melihat Uwais tersenyum.


Wednesday, April 8, 2015

Cinta Buta

Dulu Uwais waktu masih di dalam kandungan gak pake acara Empat-Bulanan atau Tujuh-Bulanan, maklum si mami males rempong hihi. Lagian esensi dari Empat-Bulanan adalah didoakan, karena sudah ada ruh yg di tiupkan. Yasudah, jadi kami mendoakan sendiri aja.

Waktu aqiqah pun gak yg ribet-ribet. Tinggal pesan kambing aqiqah, kirim ke panti asuhan langganan serta kirim doa, maksud dan tujuannya. Alhamdulillah gak pake repot, esensinya pun dapat.

Nah, kemaren Uwais dibikinin Neni pengajian. Bukan pengajian gede-gedean yg pake dekor atau undangan resmi sih. Cuma undang temen pengajian Neni dan beberapa temen gw. Alhamdulillah Uwais banyak di doain. Dan Alhamdulillah lagi, hari itu Uwais super sweet. Mulai dari gak rewel, mau digendong sama orang lain, bahkan doi banyak senyum sampai bikin ibu-ibu pengajian pada gak konsentrasi.

Lagi-lagi gw harus bersyukur, Uwais sekarang udah 3 bulan. Walaupun udah gak ASIX karena satu dan lain hal, dan Uwais sekarang lagi super cranky karena lagi pilek. Tapi perkembangan Uwais sungguh membuat gw bangga.

3 bulan bukan waktu yg sebentar, tapi juga bukan waktu yg lama mengingat jalan panjang yg harus ditempuh. Apa semua sesuai harapan gw? Tentu saja gak. Kesenangan gw sudah diperciki kecemasan ketika gw harus melahirkan dini. Belum lagi masalah breastfeeding yg gak sesuai harapan sampai saat ini.

Teringat nasihat Neni waktu gw galau masalah ASI, "Membesarkan anak itu gak pake rumus, tapi pake feeling seorang ibu". Ya memang, setelah "keceriaan" tentang breastfeeding yg terakhir terjadi, gw mengakui bahwa keputusan tetap ada di gw. Gw ibunya, gw akan memilih yg terbaik untuk anak gw. Gak peduli apa kata orang.

Disisi lain, gw sangat bersyukur atas hadirnya Uwais dipelukan gw saat ini. Walaupun masih harus melewati malam-malam yg diinterupsi oleh memyusui dan ganti popok, walaupun penuh air mata dan drama, walaupun capek hati, pikiran, dan badan. Tapi dengan senyuman Uwais semua bisa sirna. Ini ya yg namanya cinta buta? Hihihi

Saturday, March 28, 2015

Arti 5 menit

Selama 2 bulan 3 minggu 4 hari (well, kenapa harus sedetail ini sih?), gw merasa 5 menit itu sangat berarti. Dulu, waktu kuliah 5 menit menuju pengumpulan tuh rasanya udah jungkir balik kayang-kayang buru-buru ngumpulin tugas. Sekarang 5 menit aja rasanya membahagiakan.
Contohnya gini.

Gw lagi makan. Baru megang piring, mau ambil nasi udah terdengar bunyi "Ngeeeeek", tangisan sang anak lanang.
Alhasil makannya jadi buru-buru gak pake kunyah. Hap hap hap.

Lain lagi pas lagi mandi. Gw harus bolak balik matiin shower buat memastikan apakah sang anak lanang beneran nangis atau emang cuma dalam khayalan gw doang. Yak betul, default di kuping gw adalah tangisan anak lanang. Jadi gw harus konsentrasi penuh atau tanya ke orang apakah sang anak menangis atau otak gw yg menakut-nakuti.

Paling gak enak adalah kalo lagi pup. Jangan tanya deh berapa kali harus nge-pause atau bahkan nge-cancel pup selama hampir 3 bulan terakhir. Gak sehat emang, tapi jeritan anakku sangat memilukan.. huhu.

Nasib sang anak lanang nempel mulu sama mami.
Disyukuri aja.
Toh gak selamanya dia akan kecil segini dan minta dipeluk digendong disusuin terus.

*kisskisss

Friday, March 6, 2015

Nempel Kayak Perangko

Uwais dua bulan!

Another up and down already past. Fyuuuh~

Bukannya gw gak menikmati masa-masa indah awal jadi ibu ya. Tapi emang penuh dengan drama sih. Temen gw pernah bilang, kalo masa 3 bulan pertama bakal heboh. Setelah lewat dari itu, lo akan merasa kalo 3 bulan awal itu konyol bin norak banget.
Oke. I'll wait the time i laugh so hard about my past 3 months.

Perkembangan apa yg terjadi?

1. Kemaren udah mulai catch up imunisasi yg tertunda. Hore!

2. Seminggu yg lalu BB udah menginjak 3.5kg, semoga terus naik ya Uwais! Amin.

3. Nyenyen masih agak sakit, beberapa hari ini Uwais lagi suka mainan puting. Tarik-ulur ini bikin gw kremet-kremet, deh. Apalagi doi lagi suka nyenyen sambil bobo. Jadi walaupun udah bobo maunya tetep nyantol gitu. I'm thinking about pacifier, hmmm am i lame? Huh.

4. Mulai bisa diajak ngobrol. Suka ngeluarin suara2 lucu. Kalo nyenyen juga suka bergumam sendiri hihi.

5. Alhamdulillah udah mulai tenang. Gak dikit-dikit nangis lagi. Jadi udah bisa mulai bergaul sama kakak-kakak sepupunya.

6. Bunda udah berani bawa Uwais ke mall. Uyeaaah.

7. Udah bisa tengkurap ke telentang dan telentang ke tengkurep walau baru beberapa kali. Kecepetan gak sih?

8. Masih jadi anak Bunda yg hebohnya berenti kalo Bunda yg gendong.

9. Kalo pijet dan mandi udah gak nangis, tapi kadang kalo diangkat dari ember malah nangis jerit-jerit.

10. Lebih sering senyum dan ketawa. Oh, beban Bunda langsung lenyap nyap nyap, nak.

Hmm. Well, mboknya belom KB, alamak hahaha. Bukan karena kemalesan kok, tapi dokternya yg susyeee. Beneran deh gak boong.

Oya, gw mulai ikut forum untuk anak prematur, breastfeeding, dan AIMI. Semoga makin membantu gw dalam mengahadapi Uwais. Hup! Hup! Hup!

Friday, February 6, 2015

One Month!

Uwais udah sebulan!
Antara kerasa dan gak kerasa sih.
Tapi....
Sekarang sebulan,
Bentar lagi Uwais asik main sepeda,
Terus Uwais heboh mau sekolah,
Dan nanti konsultasi mau kuliah dimana,
Tiba-tiba minta dilamarin ke seorang wanita.
Nooooooooooo.
*emak lebai*

Time flies, baby.
Apa progresnya?

1. Gw masih berjuang ngebenerin proses menyusui Uwais yg masih angot-angotan. Kadang sakit, kadang gak. Ya buat Uwais mah yg penting Nyoooot.

2. Uwais nekat ngangkat-ngangkat kepalanya kalo lagi ditengkurepin. Bisa sekitar 45 derajatlah. Walaupun masih oglek-oglek. Nyeremin sih menurut gw.

3. Bisa miring kanan-kiri. Gw menunggu proses doi bisa tengkurap sendiri. Apa terlalu cepet ya?

4. Gw udah berani mandiin Uwais, horeee.

5. Beratnya udah nambah sekitar 800gr. Tapi masih dibawah target gw sih. Ayo, nak nyenyen lebih banyak!

6. Tingginya udah nambah 5 cm. Hihi

7. Alhamdulillah, selain tongue tied dan lip tied, Uwais sehat wal'afiat.

8. Gw masih begadang, walaupun sekarang udah lumayan lah bisa tidur lebih banyak. Gak cuma sejam-dua jam kayak minggu-minggu awal.

9. Beberapa kali Uwais udah mulai ngikutin arah wajah. Masih harus di latih lagi sih.

10. Si anak bau tangan sekaleee. Rata-rata cuma mau diem kalo gw gendong. Wah manja sama mboke nih maksudnya? Come to mama, baby~

Gw mulai mikirin beberapa hal mulai dari yg gak penting sampe penting banget. Misalnya kapan Uwais mau dicukur, kapan mau di sunat, atau gw mau pake KB jenis apa. Hmm, mari mari kita perhitungkan dengan baik.

Nah, setelah satu bulan, alhamdulillah pahanya udah mulai keisi. Gak kayak paha ayam lagi kalo kata suami (ayah emang suka gitu, Uwais. Jitak ayah!)
Dan sekarang jadi makin mirip ke siapa ya?