Showing posts with label Kehamilan. Show all posts
Showing posts with label Kehamilan. Show all posts

Wednesday, January 21, 2015

Early Surprise : Cerita Pertama untuk Anakku

Dear Uwais kesayangan Bunda,

Nak, bacalah cerita ini ya. Bunda akan menceritakan kisah kelahiranmu yg penuh dengan kejutan.

Selasa malam, setelah Bunda dengan suka cita mempersiapkan kamar untuk kedatanganmu, Ayah dan Bunda pun terlelap. Namun lewat tengah malam, Bunda tiba-tiba merasa mulas yg aneh untuk pertama kali. Tapi Bunda memilih untuk kembali tidur karena Bunda pikir itu hanyalah mulas biasa. Maklum, nak. Bunda juga belum mengerti perbedaan mulas biasa dan mulas mau melahirkan. Lagipula tak ada curiga jika itu sebuah tanda darimu, mengingat usiamu yg masih 35 minggu. Tak lama mulas kedua pun muncul. Saat itu sekitar jam setengah 2 malam. Ketika Bunda hendak melanjutkan tidur, tiba-tiba Bunda merasa ada sesuatu yg mengalir. MasyaAllah, mungkin ini yg disebut ketuban bocor. Bunda langsung membangunkan Ayah, Alhamdulillah Ayahmu sigap sekali, nak. Tak menunggu lama, rembesan kedua mengalir lebih banyak. Bunda dan Ayah pun segera memutuskan ke RS Awal Bros.
Alhamdulillah, Bunda sudah mempersiapkan tas untuk kepentingan persalinanmu, sehingga kami pun tidak panik.

Sesampainya di UGD, Bunda dan Ayah dibawa ke ruang Observasi VK. Setelah diperiksa dan dilaporkan ke Dr. Wulan, bidan memberitahu kalau kamu harus dilahirkan karena ketuban sudah bocor dan pembukaan sudah 2.
Rasanya perasaan Bunda langsung campur aduk. Kamu masih 35 minggu, apakah kamu sudah siap nak? Apakah Bunda salah melakukan sesuatu sehingga ketuban mengalami kebocoran dini? Semoga kamu baik-baik saja, anakku.

Segala pikiran negatif mulai menyerang Bunda. Apakah Bunda siap? Apakah kamu siap? Alhamdulillah Ayah selalu menemani Bunda dan menguatkan hati Bunda. Bismillah, jarum infus mulai dipasang, induksi dosis kecil sudah diberikan. Kami tinggal berdoa semoga persalinan ini berjalan lancar.

Uwais, anak Bunda yg paling sholeh, ternyata induksi yg seharusnya mulai bertahap setiap jam berlaku berbeda di tubuh Bunda. Saat itu Bunda masih bersama Ayah, berdua saja di bilik ruang observasi. Ayah dengan setia menenangkan Bunda sambil membacakan almatsurah seperti setiap pagi Bunda bacakan untukmu. Mulas sudah menyerang Bunda lebih dari 3x perjamnya. MasyaAllah, nak. Sungguh, ini adalah mulas yg tak pernah Bunda rasakan sebelumnya. Menjelang jam 6, bidan memutuskan untuk menghentikan induksi karena progres mulas yg terlalu cepat. Dikhawatirkan akan melukai perut Bunda dan kamu.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 ketika pemeriksaan CTG menunjukan aktifitas jantungmu menurun, pembukaan pun masih 2, sementara Bunda sudah merasakan mulas 3x setiap 20 menit. Penantian yg luar biasa bagi Bunda. Rasanya Bunda ingin menangis dan menjerit merasakan mulas ini, namun Bunda ingat kalau Bunda membutuhkan tenaga yg banyak untuk mengeluarkanmu nanti. Nak, bertahanlah. Bunda hanya bisa menahan sakitnya sambil berzikir. Ayahmu disamping Bunda, memberikan kekuatan dan dorongan untuk bertahan, sementara Neni yg sudah datang ikut berzikir dan menenangkan Bunda.

Dr. Wulan baru datang sekitar jam 10 dimana Bunda sudah mulas maksimal. Berkali-kali Neni mengingatkan untuk tidak berusaha mendorongmu. Melihat Bunda yg kepayahan, sementara aktifitas jantungmu tak membaik dan pembukaan yg masih stagnan, Dr. Wulan meminta untuk melakukan sesar jika pemeriksaan jam 11 nanti masih tak ada perubahan.

Bunda mulai susah berkonsentrasi antara zikir dan mengaplikasikan pernafasan perut yg sudah dilatih ketika senam hamil. Lewat jam 11, setelah pemeriksaan yg menunjukkan tak ada perubahan berarti, Bunda diminta bertahan hingga jam 1 siang. Saat itu mulas sudah 3x per 10 menit. Segala pikiran negatif mulai menyerang Bunda lagi. Bagaimana jika kamu tak bisa bertahan? Mengapa pembukaan tidak ada progres? Bagaimana jika Bunda tak bisa menahan rasa sakit ini? Bunda rasanya ingin marah-marah. Bunda ingin memaki, mengaduh, dan merintih karena sakit yg semakin jadi ini. Tapi Bunda tak ingin kamu mendengar kata-kata yg tak pantas di hari kelahiranmu -dan seterusnya kelak-.

Mama Teta dan Ayah Tata sudah pulang lebih dulu. Ayahmu yg tadi pergi sebentar untuk menyelesaikan urusan kampus pun sudah kembali ke samping Bunda. Aju dan Uti sudah kembali dari umroh, mereka sudah diperjalanan menuju RS.
Neni senantiasa menemani sementara Opa sudah diperjalanan dari kantor menuju RS.
Nak, apalagi yang kamu tunggu? Semua sudah menunggu kedatanganmu.

Jam 1 siang terasa lama bagi Bunda. Setelah pemeriksaan yang juga tiada progres, hanya kuantitas dan kualitas mulas yg semakin tajam saja yg berubah. Akhirnya Ayah dan Bunda menyetujui untuk dilakukan operasi karena hasil CTGmu tidak membaik.

Waktu berlalu dengan sangat lambat, terlebih sejak persiapan operasi Ayahmu tidak diizinkan masuk ruangan. Padahal sebelumnya pihak RS mengizinkan suami untuk turut hadir di ruang operasi. Bunda sedih sekaligus bersyukur, Ayahmu tak perlu melihat saat-saat yg pastinya menyeramkan di ruang operasi. Disisi lain, Bunda sedih tak ada Ayah yg menemani.

Pertama kali Bunda masuk ke ruang operasi, rasanya asing dan dingin. Di ruangan ini, segala hal bisa terjadi. Kelahiranmu bisa jadi kepergian Bunda, hanya kepasrahan dalam zikir yg terus menerus Bunda lantunkan. Semoga kamu sehat tanpa kurang satu pun, nak. Doa Bunda siang itu begitu mendalam.

Ketika rasa sakit mulai menghilang akibat anestesi yg bekerja. Ketika tubuh menggigil sedemikian rupa. Ketika Bunda sudah tak peduli siapa saja dan apa yg mereka lakukan pada tubuh Bunda. Ketika hanya lantunan zikir yg lirih Bunda ucapkan. Maka saat itulah suara tangis itu memecah hiruk pikuk ruang operasi. Tangisan pertamamu pada pukul 14.17.

Sungguh, nak. Rasanya semua sakit 12 jam yg lalu menghilang. Semua pegal selama 35 minggu yg lalu sirna sudah. Alhamdulillah, satu kecemasan Bunda langsung terjawab. Tangisanmu yg kencang menandakan jantungmu sehat dan sempurna.

Diantara kesadaran yg mulai Bunda kumpulkan lagi, Dr. Yenny meminta untuk melihat ke kiri. Disitu dirimu sedang dibersihkan, menggigil ditengah ruangan yg dingin. Kakimu yg meronta dan tangisanmu membuat Bunda mempunyai kekuatan kembali. Tunggu ya nak, nanti Bunda akan memelukmu agar kamu tak kedinginan lagi.

Bunda diberitahu bahwa keputusan untuk operasi ini sangat tepat, walaupun sedikit telat karena Bunda sudah merasakan sakit selama 12 jam. Ternyata tali pusarmu pendek, nak. Itulah sebabnya kamu tak bisa mendorong lebih jauh sementara ketubanmu sudah tinggal sedikit. Alhamdulillah, jika masih dipertahankan entah apa yg terjadi nanti, nak.

Pasca operasi, Bunda diberi kabar bahwa kamu harus masuk NICU karena prematur dan harus di observasi. Rasanya sedih sekali, nak. Melihat selang oksigen dan selang lambung melintang di wajahmu sementara ditanganmu harus dipasang infus untuk menstabilkan glukosa. Bunda ingin memelukmu, memberikan kekuatan agar kamu tak merasa sakit. Bunda ingin cepat sembuh, agar bisa secepat mungkin menemuimu. Bunda dan Ayah mengunjungimu secara berkala, berharap dokter segera mengizinkanmu pulang. Alhamdulillah dengan izin Allah Bunda sembuh lebih cepat dan bisa pulang. Sayangnya kamu masih harus menginap di NICU. Ayah dengan sabar bolak balik ke RS untuk mengantarkan ASI untukmu. Beruntunglah kamu memiliki Ayah yg penuh perhatian padamu, tak peduli walau dinihari atau sebelum subuh berkumandang, Ayahmu sudah pergi ke RS untuk mengantarkan ASI.

Hari keenam, alhamdulillah kamu sudah boleh pulang. Keajaiban yg Allah berikan karena kamu bisa kembali kepada kami lebih cepat. Semua organ tubuhmu lengkap, sehat, dan sempurna walaupun kamu lahir lebih cepat.

Uwais, anak Bunda yg tercinta. Selamat datang di kehidupan dunia ini. Bunda dan Ayah insyaAllah akan selalu menyayangi dan mendampingimu. Kami akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Hari ini, 14 hari yg lalu, merupakan karunia terbesar bagi kami. Maka kami membayar aqiqahmu hari ini, sebagai bentuk syukur atas pemberian Allah.

Bekasi, 21 Januari 2015
Penuh Cinta,
Ayah dan Bunda

Thursday, December 18, 2014

It's Amazing to Have You, Baby

32 weeks!

Alhamdulillah. Setelah kemaren gw sempet sedih karena berat mas bebe kurang, akhirnya sekarang udah lebih. Hehe.

Waktu 29 weeks mas bebe dibilang kurang 1 ons, jadi untuk 2 minggu kedepan gw utang 3 ons untuk anak ganteng ini. Wah, rasanya sediiiiih banget. Segala makanan berlemak gw lahap, susu minum 3x sehari, es krim, coklat, lasagna, macaroni schotel, dll. Pokoknya makanan yg ada susu, keju, daging gw makan. Dan alhamdulillah, waktu periksa terakhir mas bebe udah nambah 6 ons. Wow, luar biasaa hihi.

Sekarang udah masuk 8 bulan, bener-bener gak kerasa banget. Sebentar lagi mas bebe yg biasanya gerak sana sini di dalem perut bakal lahir. Si makhluk yg bikin perut gw deformasi ini akan bisa gw gendong, kurang bahagia apa lagi? Hihi.

Suami juga udah mulai mendesak-desak buat beli ini itu buat keperluan mas bebe. Alhamdulillah ada lungsuran dari kakak ipar jadi gw gak terlalu beli banyak.

Yang jelas gw sangaaaat bahagia. Bukankah itu modal penting?
Bismillah, kita berjuang bersama ya nak.

Tuesday, December 2, 2014

Baby Bumps!

Jadi, udah berapa lama gw absen?

Ternyata nulis blog minimal sebulan sekali gak semudah itu. Huahahahahaa

Padahal si bocah belum lahir ya.
Hmm. Maafkan daku~

7 months! 30 weeks! Yippiiiiii
Alhamdulillah sekarang udah masuk trimester ketiga. Rasanya? Rupa-rupa persis kayak nano-nano.

Ada apa? Ada apa?

Pertama, Kakak bebe sangaaaat aktif. Dari 29 week (harusnya 28 week), udah mulai dicatet pergerakan si anak sholeh perjamnya. Bidan di RS yg kasih tabel dan dikasih tau gimana cara ngisinya. Saat ini gw isi selama 12 jam, nanti makin lama makin lama rentang waktunya.

Tendangan dan sikut kakak bebe pun semakin kenceng. Yang lebih spektakuler adalah gw bisa liat tonjolan kayak segitiga di perut gw! Apakah itu telapak kaki? Lutut? Ataukah telapak tangan? Sikut? Hanya kakak bebe yg tau :p

Si anak ganteng ini kepalanya pun udah di bawah. Beberapa kali sempet agak naik sedikit, tapi balik lagi ke jalur keluar. Darimana gw tau? Dari cegukannya!!
Lucu banget deh, jadi kakak bebe suka cegukan, nah dari situ gw tau posisi kepala si bocah ada dimana hihi.

Ketiga, gw udah mulai rajin senam hamil. Senam hamil pertama gw di RS Hermina Depok, waktu itu sekalian main ke tempat mama. Kesan pertama agak minder gara-gara ibu lainnya perutnya gede-gede. Yaaaah, mereka udah diatas 32 weeks sementara gw masih 28 weeks sih. Tapi tetep aja bikin sedih. *pukpuk kakak bebe*

Selanjutnya gw coba senam sendiri. Tapi senam sejam di Hermina berakhir cuma maksimal 40 menit kalo gw sendiri. Huahahaha. Apa yg salah ya?
Target gw, pagi jalan sama suami (biar doi gak balapan perut sama gw, huh) dan sorenya gw senam hamil. Alhamdulillah selama ini gw terapkan hampir 2 minggu ini, gw udah bisa goodbye bye bye sama encok dan kram kaki. Ternyata senam yg "cuma gitu doang" berpengaruh besar loh.

Keempat, gw udah mulai ke dokter setiap 2 minggu sekali. Sampe nanti 36 weeks. Rasanya makin semangat setiap ke dokter. Suami juga tiap 3 hari sekali nanyain ke dokternya kapan. Senangnyaaa~

Banyak hal yg terjadi. Perkembangan positif dan negatif pun ada.
Gw coba ceritain satu persatu deh besok hihihi.

Monday, October 20, 2014

The Power of Positive Mind

Menjadi ibu hamil yang selalu berpikiran positif adalah salah satu hal yang menurut gw penting. Soalnya apa yang dirasakan ibu ketika hamil akan berpengaruh pada anak nantinya.
Walaupun kayaknya mudah, ternyata gak segampang itu loh penerapannya. Berbagai macam cobaan dan halangan siap menanti. Mulai dari perubahan hormon yang memicu perubahan mood. Perubahan bentuk tubuh yang kadang tak sesuai dengan harapan. Perubahan beban tubuh yang akan mempengaruhi stamina. Sampai tingkat sensitifitas diri sendiri dan orang lain terhadap kita.

Setidaknya, itulah yang gw rasakan hingga saat ini. Perubahan-perubahan ini terkadang belum bisa gw terima begitu saja. Misalkan saja dengan sakit pinggang yang tiba-tiba sering terjadi. Atau sakit di ulu hati dan punggung pada saat-saat tertentu yang mengaharuskan gw untuk menghindari tiduran menghadap kanan. Atau kram kaki yang belakangan ini menyerang saat gw tidur.
Kalau dibilang pengen mengeluh, ya rasanya mulut ini gak sabar pengen selalu mengeluh. Tapi masa gw mau anak gw jadi anak yg tukang mengeluh? Jadi ya harus ditahan dan dicari solusinya.

Perasaan gak enak seriiing sekali timbul. Apalagi kalo sudah dikombinasi antara badan yg sakit dan perasaan sensitif. Rasanya di badan berlipat kali sakitnya. Ini nih yang menurut gw penting : The Power of Positive Mind. Gw percaya apa yg terjadi dengan tubuh kita, bisa kita kendalikan dengan pikiran. Kalo kita merasa sakit tapi mau sehat, berpikirlah kalo badan kita sehat. Begitu juga sebaliknya, badan yg sehat akan terasa sakit kalau kita menanamkan pikiran sakit tersebut. Tapi tetap saja hal ini membutuhkan dukungan dari orang sekitar. Gak enak kan kalo lagi ngilu, kram, dan gak enak badan tapi perasaan dan pikiran juga negatif?
Gw mengakui kok, tidak semua orang bisa mengerti keadaan ibu hamil. Sebelumnya pun, gw juga belom bisa mengerti sepenuhnya tentang masa kehamilan. Jadi wajar aja kalo orang lain pun gak pengertian. Hamil itu bukan suatu penyakit dan setiap kehamilan itu berbeda satu sama lain.

Gw sebagai penganut The Power of Positive Mind (apa sih, hahahaha) juga sering hilang kendali. Ada masa-masa gw ingin dimengerti. Ada masa-masa gw gak mau mengalah. Dan ada masa-masa ketakutan akan penyakit dan kehamilan bermasalah menghantui. Inilah saat genting menurut gw, pada masa itu gw gak bisa mengontrol diri dan justru perasaan ingin lebih diperhatikan dan ketakutan-ketakutan tersebut lebih dominan. Akhirnya beban dibadan pun bertambah.

Pernah suatu ketika gw kehilangan waktu tidur malam yg cukup karena selalu terbangun tiap malam selama beberapa hari, ditengah aktivitas yg padat, gw merasakan aura negatif itu. Alhasil badan gw jadi semakin drop dan perasaan lebih sensitif. Biasanya gw bisa melakukan banyak hal, tiba-tiba jadi serba capek. Serba merasa gak dimengerti. Serba merasa bersalah. Serba serbi deh.

Lalu apa yg gw lakukan? Ya menghimpun kembali the power of positive mind itu. Berat? Banget! pikiran yg terlanjur negatif dan pesimis akan susah untuk diubah secara instan. Apalagi didukung oleh tubuh yg terus drop. Tapi insyaAllah dengan kerja keras dan kemauan yg keras pasti bisa. Pelan-pelan, insyaAllah bisa. Misalnya dengan menulis blog seperti ini. Gw sedang berusaha membangun the power of positive mind di diri gw dan orang lain, loh.

Ayo, ibu hamil. Berpikirlah positif demi anak kita yg pintar dan cerdas :)

Friday, September 19, 2014

Kicking n Rolling

Hola, alhamdulillah sekarang udah masuk minggu ke-19. Hampir memasuki bulan kelima.
Bukan, bukan gw males kok untuk update blog. Tapi 2x gw coba update lewat aplikasi di hp, ternyata gak ke post. Dan ternyata (lagi), gak kesimpen di draft. Ulalaaaa jadilah gw males buat nulis lagi. *yak, ujung-ujungnya males juga* hahaha

Nah, ada update apa?
First at all, it is baby boy! Yippy~
Alhamdulillah USG terakhir kelihatan jelas banget 'properti' si kakak hihii. Daaaan, doi aktif banget. Senangnya bisa melihat jelas seluruh tubuh kakak bebe. Gw bisa menghitung jari-jari tangan dan kakinya, gw juga bisa melihat wajahnya yang sudah hampir sempurna. Anak ini bener-bener aktif, sampe sama dokternya diketawain gara-gara doi gerak mulu dan susah untuk nge-capture gambar USGnya. Sehat-sehat ya naaak.

Second, he always kicks me!
Baru semingguan ini gw bisa memastikan kalo sensasi itu adalah tendangan dari kakak bebe. Bahkan belakangan ini, kakak bebe suka ngajak main mommy-nya. Ah, senangnya. Daddy juga ikut main, loh. Kayaknya kakak bebe ngerti kalo yg ngelus-ngelus perut itu Daddy-nya. Seru banget lah pokoknya.

I'm a happy-mom-to-be. 
Alhamdulillah diberikan kemudahan dan kesehatan. Makan lancar teruuus, walaupun ada kekhawatiran sedikit karena berat badan yang baru nambah sekilo sejak hamil. FYI, setelah ngobrol-ngobrol sama dua dokter kandungan dan beberapa temen yang baru aja melahirkan, ternyata emang tren hamil masa kini itu standarnya beda banget, loh.
Asalkan si baby sudah dihitung beratnya 2.5 kg (diluar dari ari2, ketuban, dan darah), maka ketika ibunya hanya naik 5 kg selama hamil, itu gak masalah. Justru kalo pengen ngelahirin normal, lebih baik berat bayi maksimal itu 2.8 kg. CMIIW.

Nah, berhubung badan gw yang masih segini-gini aja, cuma perut yang membuncit kayak busung lapar, gw jaraaaang banget dikira hamil haha *penting*
Temen-temen yang ketemu pun masih banyak yang mempertanyakan kenapa gw hamilnya gak kelihatan. Girls, ini sebenernya kelihatan kok. Cuma tergantung baju aja kelihatan banget atau kelihatan samar-samar *tetep berusaha*

Oke, doakan gw sehat dan tidak malas untuk selalu update blog ini. hihi
Oya, masih banyak yg suka comment di blog ini, bahkan kirim email langsung.
InsyaAllah gw bantu kok.
Feel free to ask girls :)

Thursday, July 24, 2014

Going Through My First Trimester

Trimester pertama bagi gw layaknya roller coaster. Ada hari-hari yg gw merasa sehat, bugar, bisa salto diteruskan kayang. Tapi hari-hari berikutnya hanya gw isi di tempat tidur, sekedar tilawah dan nonton tv.

Apa saja yg terjadi?
Gw sendiri pun masih meraba-raba. Banyak yg gw gak tahu, banyak yg gw gak ngerti. Yang jelas, dalam sehari badan gw bisa merasakan capek terus-menerus disertai pusing dan keliyengan. Atau dihari lainnya gw akan merasakan mual sampe muntah. Di lain hari, badan terasa enak tapi gw bisa nangis sejadi-jadinya. Aneh kan?
Haha.

Semua itu katanya sih hormonal. Satu hal yg pasti, setiap kehamilan itu berbeda tanda-tandanya. Ada wanita yg dari trimester satu sampai melahirkan sehat walafiat, bisa beraktifitas maksimal seperti biasa. Ini lah wanita yg menurut gw sangaaaaat beruntung. Selain itu, ada juga wanita yg diberikan kenikmatan morning sickness (yang sebenernya bisa aja terjadi gak cuma dipagi hari, tapi bisa siang maupun malam). Badan terasa sakit, capek, padahal gak abis ngapa-ngapain. Kehamilan jenis ini bisa melanda di trimester pertama saja, atau bahkan hingga trimester akhir. Ada juga tipe kehamilan yang memang diminta untuk istirahat saja. Selama 5 bulan bedrest dan beberapa kasus sampai diinfus karena tidak ada makanan yg bisa masuk.
Saran gw, jangan pernah membandingkan kehamilan satu dengan yang lain. Karena setiap wanita akan mempunyai pola yg berbeda. Bahkan seorang wanita bisa merasakan gejala yg berbeda untuk anak pertama dan yg lainnya. Biasanya sih beda jenis kelamin, beda juga gejala kehamilannya.
Maka bersyukurlah jika anda adalah wanita dengan tipe kehamilan yg 'bandel' :)

Kehamilan itu bukan hanya mempengaruhi fisik saja, loh. Tapi perubahan hormon yang relatif signifikan ini sangat bisa mempengaruhi mood. Tidak sedikit wanita hamil yang mengalamai mood swing ataupun perubahan sikap. Dan untuk para suami, janganlah mempertanyakan mengapa perubahan itu terjadi, sesungguhnya sang istri pun juga gak tahu kenapa. Hehehe.
Jadi, untuk para suami, bersabar dan mengertilah.

Tidak berhenti sampai situ saja. Blame-it-on-hormones-syndrome ini bisa berlanjut sampai kesiapan mental. Gw pribadi merasa walaupun secara teori gw udah merasa 'siap' tapi tetap aja perubahan-perubahan ini bisa bikin perasaan campur-aduk, kocar-kacir, semrawut. Bayangkan saja, biasanya gw bisa mengerjakan banyak hal, mulai dari kuliah sambil kerja. Pagi kuliah, malem kerja, weekend pun rapat. Atau seharian pergi keliling kota, dari ujung timur ke ujung barat, naik angkutan umum baik hujan maupun terik. Tapi sekarang, ketika hamil perubahan itu bisa membuat shock juga. Kadang merasa mengantuk berlebihan, kadang dilanda capek dan pegal kayak abis yoga. Kadang jadi sensitif untuk hal-hal kecil dan gak penting. Bikin sedih dan kesal sih sudah pasti, tapi stress dan depresi yang mengancam lah yang paling menakutkan.

Bagaimana tidak, saat ini tanggung jawab di badan ini bukan hanya milik sendiri. Tapi ada nyawa lain yang di tanggung. Jika sesuatu terjadi, gw pasti akan sedih. Apalagi ketika mendapati masa-masa kram perut dan kontraksi terus menerus dan harus berhadapan dokter. Disatu sisi gw jadi tahu bahwa kakak bebe benar-benar ada di rahim gw. Tapi disatu sisi gw takut, kram dan kontraksi ini membahayakannya. Serba salah. Bahagia tapi takut. Antusias tapi gak pede. Nah, kan.

Disini lah peran suami, keluarga dan teman sangat berpengaruh. Mintalah suami mengerti. Mungkin ia tidak tahu apa yg para ibu rasakan. Mungkin ia bertanya-tanya mengapa perubahan sikap dan sifat terjadi. Mungkin ia tidak mengerti, bahwa dengan kita diam pun, dalam tubuh kita bekerja dengan keras, seiring pertumbuhan si bayi. Mungkin ia tidak tahu, bahwa setiap kehamilan itu berbeda. Dan masih banyak mungkin-mungkin lainnya yang harus diceritakan. Gw pun awalnya kesulitan, tapi gw mencoba untuk bercerita dan memberikan beberapa artikel tentang kehamilan. Lumayan membantu sih, menurut gw. Idealnya, bacalah artikel itu bersama kemudian diskusikan.

Keluarga, terutama orang tua pasti akan memberikan perhatian penuh. Jangan ragu untuk sekedar menelpon dan memperbaiki mood dengan bercerita hal-hal kecil dan gak penting. Dengan teman pun, gw sering menyapa dan berbagi cerita dari berita gak penting a la selebriti sampai topik seru soal politik. Gak perlu melulu soal kehamilan kok, tapi mendapatkan teman curhat dan bertanya soal kehamilan pastinya akan menjadi nilai tambah.

Selain itu, bacalah artikel-artikel tentang kehamilan. Mama gw yg udah hamil 6 kali pun mengakui bahwa ia akan membaca artikel kehamilan setiap hamil. Walaupun menurut gw dia udah ekspert soal hamil (yaiyalah 6 kali hamil, 5 kali melahirkan dengan satu bayi meninggal, dan satu keguguran), mama gak pernah menyuruh macam-macam. Harus ini harus itu, mestinya begini mestinya begitu. Pesan beliau cuma satu, baca. Cari tahu tentang kehamilan gw. Karena menurut beliau, setiap kehamilan itu berbeda. Apalagi dengan perubahan cuaca, iklim, dan gaya hidup.

Mungkin dulu orang akan tidak ngeh dengan autis. Tapi seiring perkembangan zaman, autis ternyata bisa menyerang orang-orang tertentu. Inilah yg harus diwaspadai. Belum lagi penyakit turunan dan kelainan lainnya.
Mungkin dulu jaman mama hamil gw pun beliau gak rajin ke dokter untuk usg, tapi ketika hamil adek gw yg terakhir hal itu berubah. Perubahan cara hidup dan teknologi bisa mendeteksi dan meminimalisasi kelainan yang terjadi. Jangan salah, di zaman yang menurut gw udah modern ini pun, angka kematian ibu yg melahirkan di Indonesia masih menduduki peringkat ketiga di Asean menurut WHO. Menyedikan ya?

Yah, gw juga bukan ekspert. Ini anak pertama gw, pengalaman baru bagi gw. Gak ada salahnya mencari tahu lebih banyak. Kalaupun saran-saran gw membantu, alhamdulillah. Hehe.
Dan bagi wanita hamil diluar sana, jangan stres dan jangan depresi. Berbahagialah, tersenyumlah. Carilah metode yg tepat untuk mendapatkan kebahagiaan itu setiap hari dan setiap saat. Karena ibu hamil yang bahagia akan melahirkan bayi yg sehat dan bahagia.

Cheers!