Monday, January 23, 2017

Part 2 : Umroh Ketika Hamil dan Membawa Batita

Cerita Umroh ini berlanjut dari Part 1 ya. Part 2 berisi perjalanan di Mekkah sampai kembali ke Indonesia.

Mekkah

Rombongan kami berisi 10 orang keluarga (termasuk balita-batita-bayi) dan hotel pun terpisah dengan rombongan lain. Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk memisahkan diri sejak awal agar tidak memberatkan rombongan lain. Ini salah satu pengalaman Umroh yang lalu ketika gw hamil Mas U dan umroh bersama suami. Pada akhirnya kami terpisah karena gw harus pake kursi roda saat Sa'i.


Mengingat kondisi gw yang pasti tidak seprima saat tidak hamil, gw memutuskan membawa kursi roda sendiri untuk ber-Umroh. Tapi akhirnya kursi roda disiapkan oleh travel (yang akhirnya gak kepake karena kursi roda kebawa ke hotel satu lagi). Gw dan suami mencari kursi roda sewaan dari hotel, sayangnya karena hotel sedang peak season maka kursi roda pun habis dipinjam. Salah seorang pengunjung menyarankan untuk menyewa di depan hotel sebelum pintu masuk Masjid.
Lokasi penyewaan pun didapat, ternyata posisinya ada di depan Zamzam Tower, sementara gw menginap di sebelahnya, Safwah Tower. Penyewaan cukup mahal, sekitar SR 250 untuk keseluruhan Umroh (tawaf dan sa'i), sedangkan untuk Sa'i saja SR 150. Gw mencoba masuk ke Zamzam Tower ternyata di satpam gw melihat kursi roda nganggur. Dengan bahasa seadanya, kami berhasil meminjam kursi roda gratis dari pak satpam, Alhamdulillah.

Umroh baru di mulai ketika jam sudah menunjukkan lewat 12 tengah malam. Gw dan Mas U duduk di kursi roda sedangkan suami yang mendorong. Kami terpisah dengan rombongan karena jalur kursi roda berada di lantai 1, sedangkan rombongan keluarga akan tawaf di pelataran Ka'bah dengan pertimbangan lebih cepat selesai (kalau di lantai 1 lebih memutar jauh. Sebagai perbandingan, di pelataran membutuhkan waktu 25 menit untuk tawaf sedangkan di lantai 1 sekitar 55 menit).

Alhamdulillah suami gw sabaaaaar banget mendorong kursi roda yang pasti berat. Gw sering mendengar nafasnya yang ngos-ngosan dengan bibir kering pecah-pecah. Tapi beliau sama sekali gak mengeluh loh. Terharu banget gak sih? Huhuhu.
Sementara Mas U langsung tidur pulas dipangkuan gw sejak putaran pertama sampai putaran ke tujuh. Pada putaran terakhir, rombongan keluarga sudah menunggu di tempat yang sudah disepakati sementara kami menyelesaikan tawaf kami. Kami menutup rentetan tawaf dengan shalat di belakang maqam ibrahim dan meminum air zamzam. Lalu dilanjutkan dengan beristirahat dan shalat tahajud sebelum menyelesaikan Sa'i.

Saat Sa'i, kami menyewa satu kursi roda lagi untuk anak-anak. Gw dan Mas U menggunakan kursi roda sewaan yang didorong oleh mas-mas super energic untuk menyelesaikan Sa'i gw secepat kilat. Sementara sepupu-sepupu Mas U tertidur di kursi roda pinjaman yang didorong kakak ipar gw. Mas U pun tertidur saat Sa'i, sampai akhirnya gw mau tidak mau harus menggendongnya ke pinggir area karena Sa'i gw sudah selesai sementara suami dan keluarga baru menyelesaikan Sa'i keempat mereka. Kebayang kan betapa cepatnya si mas-mas sonic mendorong kursi roda gw? Hahaha.
Anyway, seingat gw ini gak terlalu seram dibandingkan ketika dulu gw didorong di kursi roda saat Sa'i. Mungkin dulu gw gak nyangka kalo si mas-mas pendorong bakal lari ngebut selama Sa'i sedangkan sekarang gw udah siap mental bakal didorong sama the flash yang nyamar pake sorban.

Hampir jam 4 pagi dan Umroh kami alhamdulillah telah selesai. Rasanya kami tidak sanggup untuk menunggu waktu subuh (5.45) di Masjid sehingga memutuskan untuk pulang dan bersih-bersih di hotel. Setelah mandi, gw, suami dan Mas U baru ke Masjid untuk shalat subuh kemudian kembali ke hotel untuk sarapan dan memulai hibernasi agar tenaga pulih kembali.

Selama di Mekkah gw juga gak jalan-jalan. Gw gak ikut city tour karena masih ada satu lagi perjalanan jauh dari Mekkah-Jeddah-Jakarta bahkan sampai ke Bogor untuk sampai rumah. Tapi walaupun demikian, kali ini gw sempatkan untuk jalan ke belakang Hilton demi merasakan Al-Baik yang fenomenal itu, hahaha. Tips dari gw, datanglah berdua dengan istri karena antrian untuk wanita jauh lebih beradab daripada antrian untuk laki-laki. Selain itu, jangan datang menjelang adzan karena sudah habissss.

Selama 4 hari di Mekkah, alhamdulillah paling tidak gw bisa tawaf sehari sekali. Hanya saat Umroh saja gw tawaf pake kursi roda, sisanya gw ke pelataran Ka'bah untuk tawaf. Gw memilih waktu tahajud untuk tawaf, sebagai pertimbangan gak terlalu panas walaupun tetap penuh. Tapi masak sih udah sampai di depan Ka'bah gak kepengen tawaf pake kaki sendiri? Sempat terbersit untuk shalat ke Hijr Ismail, sayangnya gw tawaf selalu mepet waktu subuh sehingga Hijr Ismail sudah dibersihkan dan dikosongkan. Sempat juga ingin berdoa di depan Multazam, Alhamdulillah kesampean setelah tawaf wadha. Untuk mencium Hajar Aswad sih kepengen, tapi gw tau diri kok hehehe. Alhamdulillah sebelumnya sudah pernah, insyaAllah dikesempatan Umroh/Haji berikutnya yang lebih lapang bisa terlaksana lagi. Aamiin.

Gw juga menyempatkan diri jalan-jalan di Mall terdekat dan ke Bin Daud (waktu di Medina bahkan gw gak mau ke Bin Daud saking khawatir capek). Lumayan bisa kasih oleh-oleh gak seberapa untuk orang terdekat :)

Jeddah

Hari keempat kami tutup dengan perjalanan ke Jeddah. Seperti biasa di Jeddah berkunjung ke Corniche (gw gak turun tapi kakak gw sempet lari-lari ke Al-Baik lagi dan sayangnya menjelang adzan. Jadi gak dapet deh) dan singgah di Masjid Terapung untuk shalat dan makan. Selanjutnya kami langsung ke bandara dan menghabiskan waktu hampir 5 jam menunggu bersama balita-batita-bayi yang kelebihan energi.

Buntutnya, Mas U tidur malam di pesawat sebelum makanan pesawat diberikan. Alhasil, sepanjang perjalanan Mas U terbangun dan menangis berkali-kali sampai pramugari pun ikut bolak-balik menanyakan, huhuhu.
Kesalahan gw adalah gak nyuapin Mas U sebelum naik pesawat, jadi dia tidur dalam kondisi lapar. Mas U mau tidur nyenyak setelah gw paksa makan 5 suap menjelang subuh.

Jakarta

Tidak ada cerita berarti sesampainya di Soekarno-Hatta. Imigrasi pun kami lalui dengan cepat tanpa mengantri. Koper kami serahkan ke pihak travel untuk diantar ke rumah. Gak terbayang harus menunggu koper-koper lagi dan pulang dengan menarik koper bersama balita-batita-bayi kecapean dan kepanasan dengan Uber.

Alhamdulillah, secara keseluruhan perjalanan kami selesai. Kami pulang dengan keadaan sehat dan tanpa kekurangan apapun. Perjalanan jauh lebih mudah dibandingkan dengan apa yang gw pikirkan. Dan kami mendapat banyak kemudahan selama disana. Mulai dari hotel yang sangat dekat, orang-orang yang ramah (tidak jarang Mas U tiba-tiba dicium dan diberi permen maupun uang), dan kemudahan lainnya yang tidak terduga.


Part 1 Indonesia hingga Medina

Part 3 Tips and Tricks

1 comment:

  1. Just share info aja, RATU MEDIKA adalah toko online yang menjual kursi roda travelling untuk jalan-jalan. Kursi roda liburan (kursi roda bepergian) ukuran kecil dan ringan. Kursi roda haji yang biasa digunakan saat naik haji dan naik pesawat. Kursi roda lipat ukuran mini yang ringan dan praktis masuk bagasi pesawat, untuk lebih jelasnya dapat membuka link ini: KursiRoda.net

    ReplyDelete