Monday, January 23, 2017

Part 3 : Umroh Ketika Hamil dan Membawa Batita

Siapa yang tidak ingin menginjakkan kaki di tanah suci untuk ber-Umroh?
Alhamdulillah tempo hari gw berkesempatan untuk merasakan nikmatnya hamil dengan membawa anak 2 tahun yang sedang aktif. Berikut ini beberapa catatan penting yang bisa dijadikan referensi sebelum berangkat.

Gw berangkat bersama rombongan keluarga, terdiri dari bumil (gw) dan suami beserta Mas U (2 tahun), busui (kakak ipar) beserta suami dan anak-anak (6 tahun, 4 tahun, 4 bulan), dan kedua mertua. Total rombongan kami adalah 10 orang, berangkat pada pertengahan Januari 2017 dengan suhu Medina 15*-20* sedangkan Mekkah 30* (jakarta sekirar 30*).

Daaan, ini dia beberapa catatan penting yang bisa disimak. Semoga bermanfaat :)

Sebelum Keberangkatan

1. Persiapan Fisik
Bumil
Jaga kondisi tubuh itu harus. Gw pribadi gak suntik meningitis (kartu kuning diurus pihak travel), ketika gw ke KKP-halim untuk vaksin, gw sudah membawa surat keterangan dari obgyn bahwa gw sedang hamil (hampir) 6 bulan sehingga gak bisa di vaksin. Info dari teman sebelumnya dengan surat tersebut dia bisa dapat kartu kuning, sayangnya ketika gw ajukan ternyata peraturan sudah berubah dan pihak KKP tidak mau mengeluarkan kartu kuning.
Selain itu, gw memutuskan untuk vaksin influenza bersama suami dan uwais. Berdasarkan obgyn dan beberapa jurnal yang gw baca, vaksin influenza boleh diberikan (bahkan dianjurkan di Amerika) kepada ibu hamil.
Catatan tambahan : kakak ipar gw yang lagi menyusui di vaksin meningitis tapi beda merk. Merk yang saat ini tersedia di KKP tidak boleh untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah 2 tahun. Dengan rentang pemberian vaksin 3 tahun. Jadi kakak ipar gw vaksin di klinik depan KKP (syarat dan ketentuan sama seperti di KKP) dengan merk berbeda yang rentang pemberian vaksinnya 2 tahun.

Batita
Ketika gw ke KKP, Mas Uwais saat itu berumur 23 bulan 21 hari. Kira-kira kurang 9 hari menuju 24 bulan/ 2 tahun. Jadi Mas U gak boleh vaksin dan gak mendapatkan kartu kuning. Mas U boleh vaksin untuk mendapatkan kartu kuning jika H+1 berumur 2 tahun. Sementara sejak H+1 usia Mas U hanya berjarak 5 hari sebelum berangkat (efektif vaksin bekerja adalah 2-3 minggu setelah vaksin). Jadi gw memutuskan untuk memvaksin Mas U di tempat lain, sekalian ulangan Campak (yang selalu tertunda karena Mas U belum dapat MMR) dan ulangan influenza.

Suami
Hanya suami yang bisa vaksin meningitis di KKP dan mendapatkan kartu kuning. Kemudian ditambah dengan vaksin influenza ditempat lain. Sebenarnya vaksin influenza bisa didapatkan di KKP juga. Sebaiknya memang vaksin combo meningitis-influenza agar sekalian.


Di Jakarta dan sekitarnya bisa vaksin di Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim  Perdana Kusuma (pindah ke daerah sekitar situ tapi masih di daerah Halim), dan di Pelabuhan Tanjung Priok. Sebaiknya datang sepagi mungkin dengan syarat membawa fotokopi paspor, fotokopi ktp, fotokopi kk, fotokopi akta dan uang sekitar 300rb untuk vaksin meningitis saja.

2. Persiapan Mental
Perjalanan Umroh kali ini gw benar-benar gak ngoyo. Gw niatkan untuk ke masjid setiap shalat fardu, ditambah tahajud dan dhuha jika bisa. Sayangnya gw gak bisa shalat 5 waktu di masjid. Gw harus memikirkan jam tidur Mas U yang berantakan (terjadi perbedaan waktu 4 jam lebih lama di Saudi daripada di Indonesia), jika Mas U lapar atau mengantuk maka dia akan usil buanget. Jadi gw memutuskan untuk tidak ke masjid untuk shalat Isya tapi jika memungkinkan gw akan tahajud di Masjid bersama Mas U. Hal ini bisa dibolak-balik sesuai kondisi lapangan saja. Begitu juga dengan shalat zuhur, terkadang Mas U sudah terlelap dan gw gak tega untuk membangunkan jadi gw memilih untuk shalat di Masjid Hotel (Hotel gw tepat di depan Masjidil Haram sehingga termasuk shalat di pelataran Masjid).

Gw dan suami juga bertekad untuk tetap memfasilitasi waktu bermain untuk Mas U agar ia tidak bosan, kenyataannya mainan yang gw bawa tidak terlalu membantu. Hanya hotwheels dan buku-buku saja yang akhirnya digunakan.

Sangat penting bagi pasangan untuk bekerjasama sebagai tim. Jangan sampai ibadah jadi terganggu karena hal-hal minor seperti drama berantem atau karena saling tunggu yang tidak jelas. Gw dan suami selalu menentukan tempat pertemuan dan harus menunggu disana dengan kondisi apapun. Pernah sekali kami menunggu agak lama, ternyata gw menunggu di lampu hijau berjarak 2 meter dengan suami. Alhamdulillah kami hanya tertawa ketika akhirnya bertemu kembali, hehehehe.
Selain itu, kami lebih sering untuk bertemu di restoran hotel/kamar hotel. Berhubung jarak hotel yang dekat daripada gw harus berdiri lama menunggu atau suami yang sambil menggendong Mas U.

3. Persiapan Travel
Pilihlah travel yang sudah kita kenal baik. Jelaskan apa saja yang dibutuhkan selama perjalanan. Jelaskan rombongan seperti apa yang akan dibawa. Serta jelaskan perjalanan seperti apa yang diinginkan.

Kami menjelaskan ke travel untuk memilih pesawat yang langsung ke Medina agar memotong satu rute perjalanan darat yang lumayan lama. Sebagai contoh, jika penerbangan ke Jeddah maka akan ada perjalanan darat Jeddah-Mekkah, Mekkah-Medina (dan di tambah Medina-Jeddah jika pesawat ada di Jeddah lagi). Sedangkan rute yang gw ambil adalah Medina-Mekkah dan Mekkah-Jeddah saja.

Selain itu sebisa mungkin menggunakan pesawat yang langsung tanpa transit. Bisa menggunakan Saudi Arabia Airlines atau Garuda Indonesia. Sayangnya, perjalanan berangkat kami harus transit di Abu Dhabi saat tengah malam selama 2.5 jam. Ini lumayan bermasalah untuk saya dan Mas U (sudah dibahas di Part 2). Sedangkan perjalanan pulang kami menggunakan Garuda Indonesia.

Mintalah penerbangan malam agar bisa beristirahat dengan baik. Jika terdiri dari bayi, balita, dan ibu hamil sebaiknya meminta kursi di belakang kamar mandi. Untuk bayi bisa mendapatkan basinet (selain di tempat ini bayi tidak akan mendapatkan basinet), untuk balita akan mendapatkan space yang lebih leluasa, namun kekurangannya sandaran tangan tidak bisa diangkat, sedangkan untuk ibu hamil bisa mendapatkan space lebih lebar agar kaki tidak bengkak.

4. Persiapan Lain
- Usahakan cek cuaca saat tiba agar mempersiapkan pakaian yang tepat. Gw pergi saat winter di Arab Saudi dimana winternya berbeda dengan Eropa yang dingin. Jadi carilah info seakurat mungkin sebelum berangkat. Ketika sampai, di Medina masih terasa dingin sedangkan di Mekkah seperti di Jakarta saja.

- Bawa pakaian seperlunya, apalagi ketika winter, baju tidak perlu banyak ganti. Namun tetap pastikan untuk menyisakan 1 set pakaian lebih untuk berjaga-jaga.

- Mas U awalnya sudah hampir beres toilet training, tapi daripada di Masjid malah pengen pipis atau pup akhirnya demi memudahkan kami sebagai ayah bundanya, gw memutuskan untuk memakaikan pospak lagi ke Mas U selama Umroh. Di Arab Saudi gak ada pospak model pants, jadi gw bawa pospak sendiri untuk menghindari ruam popok maupun rempong cari pospak.

- Makanan, cemilan, dan susu untuk Mas U. Disana bakal banyak makanan, tapiiii terkadang namanya anak-anak maunya makan makanan kesukaan jadi gw tetap membawa secukupnya. Paling tidak untuk 1 hari setelah sampai dan pindah kota.

- Jangan sepelekan obat-obatan, walaupun disana banyak apotek tapi lebih baik kita siap sedia karena obat kan cocok-cocokan. Alhamdulillah gw gak pakai sama sekali kecuali vitamin dan obat penguat rahim dari dokter.

- Gw gak bawa stroller, berhubung hotel dekat dan sepertinya jarang jalan-jalan (kalaupun city tour akan ke masjid yang gak boleh bawa stroller masuk atau ke gunung dan kebun kurma yang gak cocok pake stroller). Kalau ke Mall ya jalan aja. Paling jalan-jalannya juga dua jam. Yang kepake banget adalah gendongan (i love you full Ergobaby), kepake saat tawaf dan kadang shalat juga Mas U digendong.

- Iketan anak. Dalam kasus ini Mas U pakai tas Little Life yang ada iketannya. Jadi bisa sekalian taro pospak dan mainannya di dalam tas.

- Surat keterangan dokter (beserta hasil USG). Surat ini gak diminta sih, kayaknya karena hamil gw gak keliatan hahahaha. Tapi lebih baik persiapkan, surat hanya berlaku 3 hari, jadi siapkan semepet mungkin dengan waktu keberangkatan.

- Mainan lama dan mainan baru. Ada masanya anak akan bosan dengan mainan miliknya (karena biasanya hanya membawa sedikit mainan saja), jadi ketika disaat yang genting (baca : anak rewel), keluarkan mainan baru satu persatu. Cara ini cukup berhasil walaupun pada akhirnya Mas U lebih tertarik dengan buku dan hotwheels saja.

- Berdamai dengan keadaan. Dalam situasi gw, bepergian bersama sepupu-sepupunya membuat Mas U lebih ingin main daripada makan dan tidur. Jadi gw harus mematahkan beberapa peraturan demi anak makan dan tidur. Seperti misalnya Mas U boleh nonton youtube sambil makan (kalau gak, dia akan lari ke meja sepupunya dan mengganggu waktu makan sepupunya. Alhasil gak ada yang selesai makannya).

- Bawa beberapa tempat makan (kecil dan besar) dan tempat minum, serta sendok. Namanya anak-anak mereka gak akan sabar menunggu waktu makan. Apalagi disaat bepergian, lebih baik mereka selalu kenyang daripada lapar dan cranky. Jadi gw membawa 2 makanan besar (buat gw dan Mas U, maklum bumil suka laper) dan 2 tempat makan kecil untuk snack. Ambil beberapa makanan yang disukai di restoran hotel, jadi tidak perlu memikirkan jajan lagi, berhubung tenaga Bunda pun terbatas. Tempat minum digunakan untuk mengambil air zamzam, sayang kan masak sudah sampai Medina-Mekkah minumnya air mineral biasa?
Selain itu, sediakan zipper bag ukuran kecil. Jika makanan yang disimpan tidak habis, bisa disedekahkan hari itu juga ke yang membutuhkan.

- Siapkan dalam koper kabin 1 set perlengkapan esensial dan pakaian. Kita tidak tau bagaimana kondisi disana, bisa jadi koper kita terlambat datang atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai menjadi halangan karena anak tidak bisa menunggu lama untuk eror semacam ini.

Saat Perjalanan

1. Fisik
Bumil
Kenali tanda bahaya, saat ini bukan hanya ibu yang beribadah namun juga janin di dalam perut. Ada nyawa yang bergantung pada ibu disana. Mungkin ibu akan merasa tidak lelah dan bersemangat, namun kondisi janin bisa sebaliknya. Oleh sebab itu, lebih baik tidak memaksakan diri dan memprioritaskan yang esensial saja.

Batita
Tetap penuhi waktu main, istirahat dan makannya. Usahakan tidur tepat waktu dan sesuai porsi seperti di Indonesia. Makan dengan gizi yang tetap baik agar tidak mudah sakit. Serta anak tetap bahagia walau dalam masa perjalanan.

Suami
Sebenarnya disini tugas suami lah yang akan paling berat karena bertugas untuk menjaga bumil, janin, dan anak. Suami harus pengertian untuk tetap mengerjakan yang prioritas saja, alhamdulillah suami gw gak neko-neko. Malah gw yang terkadang memyuruh dia jalan-jalan daripada di kamar aja.

2. Mental
Saling memahami, mengingatkan dan menjaga. Jangan sampai berantem dengan pasangan karena hal yang gak penting.

3. Persiapan Lain
- Buatlah daftar orang yang akan dibelikan oleh-oleh. Pilih oleh-oleh yang tidak memberatkan namun berarti.

- Siapkan uang cash berupa rupiah maupun kartu debit. Disana sangat mudah mendapatkan ATM dan money changer. Walaupun demikian, sebaiknya tetap mempunyai pegangan uang SR.

- Kursi roda bisa menyewa dibagian luar depan Zamzam Tower. Disini penyewaannya untuk tawaf dan sa'i harga SR 250 sedangkan untuk Sa'i saja SR150. Tetapi jika di dalam Masjid ada penyewaan, untuk sa'i saja bisa ditawar sampai SR75. Sebaiknya cek dulu ke hotel apakah menyediakan peminjaman kursi roda. Selain itu bisa juga tanyakan ke travel apakah bersedia membawakan kursi roda dari indonesia.

Part 1 Dari Indonesia ke Medina
Part 2 Mekkah sampai ke Indonesia


No comments:

Post a Comment