Showing posts with label discover. Show all posts
Showing posts with label discover. Show all posts

Wednesday, February 5, 2014

Farewell with My Baby Part 2

Kehidupan di Discover dan MBA cukup membuat gw dan Jess kelimpungan. Bagaimanapun kami sudah berusaha mengatur jadwal agar bisa tetap eksis di Discover tanpa mengurangi kewajiban kami sebagai mahasiswa. Alhamdulillah, gw memiliki orang-orang yg pengertian (atau terjebak? Haha) yg mau bekerja sama di Discover.

Singkat cerita, gw sudah pulang dari London untuk joint research dengan Goldsmiths University of London. Gw akhirnya memulai thesis gw : bisnis strategi untuk Discover. Dalam 2 bulan gw kebut thesis sampe beres dan bisa sidang. Ditengah-tengah hiruk pikuk thesis, persiapan mau menikah, dan Discover muncul lah statement ini : Discover kemungkinan gak bisa diterusin.

Gw sebenarnya udah sadar saat mendaftarkan Discover ke notaris, Discover gak akan bertahan lama. Paling tidak, ada masa vakum nantinya. Bukan apa-apa. Gw sadar, sebagai cewek nanti jika sudah waktunya, gw harus ikut kemana suami gw pergi. Begitu juga Jess.
Ditambah lagi, Jess juga punya kewajiban untuk membantu perusahaan papanya.

Disinilah semua titik bertemu. Keputusan gw akan menikah dan Jess yg harus membantu papanya secara langsung. Kami berdiskusi lumayan banyak, memikirkan segala yg bisa kami lakukan sebelum akhirnya kesimpulan diambil.
Sedih? Banget. Discover ini udah kayak anak gw. Gw dan Jess yg cariin bajunya di IBCC. Kami juga yg pilih aksesoris apa saja yg nantinya dipakai oleh Discover. Kami juga yg carikan proyek-proyek apa yg dimainkan. Hingga sekarang, kami juga yg harus mengakhirinya.

Semua teman-teman dan nanny Discover sudah kami beritahu, pertemuan terakhir dan tanda jasa sudah menemani Discover pun sudah kami berikan kemarin. Ketika mereka pulang, Discover sudah bersih. Duduklah kami berdua di ruangan ini. Seperti dahulu, hanya berdua di Discover.

Perasaan aneh mulai menjalar, gw berjalan memutari dinding. Menatap setiap sudut yg ada, disana gw biasa sholat dan bercermin untuk bersiap pergi lagi atau sekedar memastikan jilbab dan makeup gw rapi. Di pojok sana gw berdiri ngadem di bawah AC. Sambil terkadang membaca tempelan dinding yg berisi menu makanan maupun bon belanja serta catatan nomer penting. Pojok lainnya adalah tempat gw biasa mencari inspirasi. Baik dengan membaca dan memilah buku-buku yg memang sengaja gw dan Jess kumpulkan, maupun dengan tidur diantara bantal dan boneka.

Februari 2014 terasa berjalan begitu cepat. Gw pun tak menyangka Discover akan berakhir disini. Setelah Januari kemarin Discover yg menemani dan membawa gw menyelesaikan thesis, kurang dari sebulan kemudian gw harus mengucapkan selamat tinggal.

Gw dan Jess tertawa-tawa, kami memutuskan untuk berfoto-foto daripada larut dengan kesedihan kami. Minggu depan kami baru mulai mengosongkan Discover lengkap dengan komputer-komputernya.

Ternyata gw tidak setegar itu, bagaimanapun sekali lagi, Discover adalah kebanggaan gw. Maka ketika mas pacar menelpon malam itu, meneteslah air mata gw. Tidak setetes namun cukup untuk membuat kelopak mata gw membengkak seperti biji jengkol.

Gw menangis tersedu-sedu. Sungguh, ini seperti kehilangan anak gw. Bukan masalah materi, tapi kenangan dan kerjakeras yg sudah gw dan Jess curahkan membuat gw gak sanggup.

Discover memang sebuah jalan, ia adalah salah satu mimpi yg telah terpenuhi. Semoga setiap ilmu dan pelajaran hidup selama merawat Discover, bisa gw dan Jesd maksimalkan. Amin.

Tuesday, February 4, 2014

Farewell with My Baby Part 1

Akhir Oktober 2011. Saat mayoritas mahasiswa AR yg baru lulus sedang galau-galaunya mau ngapain setelah wisuda; tiga orang anak gw, Jess, dan Way justru sibuk memulai "sekte" kami, sebuah konsultan arsitektur.

Nekat? Banget. Tanpa persiapan, hanya bermodalkan nekat dan ijazah S1, kami mulai merintis Discover.
Berminggu-minggu berkeliling Bandung, mencari tempat yg cocok untuk Discover. Siang kami berkeliling, sore hingga malam kami ngebut mengerjakan proyek demi bertemu klien. Tapi, toh kami senang-senang saja, arsitek mana yg tidak memimpikan punya konsultan sendiri?
Dan gw merasa sebagai salah satu arsitek yg beruntung, karena gw bisa mewujudkan impian itu, tepat sesaat setelah wisuda.

Alkisah; gw, Jess, dan Way akan tanda tangan kontrak dengan pemilik ruko. Kami bertemu notaris untuk revisi kontrak di hari selasa.
"Kita ketemu lagi kamis, ya. Buat penyelesaian dan pengurusan surat-suratnya," kata Tante Notaris.
"Wah, kamis gak bisa, tante. Ada gladiresik wisuda." Jawab gw sambil cengengesan.
Tante Notaris dan Tante Pemilik Ruko berpandangan bingung, "Loh, siapa yg wisuda?"
"Kami, tante." Kami menjawab serempak.

Mungkin saat itu Tante Pemilik Ruko langsung khawatir dengan nasib rukonya. Tiga anak yg baru mau wisuda ini akan menyewa ruko untuk kantor. Ya ampun, mungkin mereka udah gila.

Singkat cerita, kami mulai mengisi dan merenovasi ruko yg seharusnya toko dan gudang penyimpanan, menjadi kantor konsultan arsitektur. Atas seizin Tante Pemilik Ruko, kami mengganti tangga yg gak manusiawi dan tanpa railing, menjadi lebih terdesain dengan bordes yg cukup nyaman. Pintu kaca pun dipesan, meja dan kursi didesain sendiri dan dibuat oleh tukang kami. Satu persatu kebutuhan mulai dilengkapi. Cerita-cerita lucu pun selalu mengalir.

Percakapan ini terjadi pada suatu hari ketika gw dan Jess akan memesan kaca untuk meja rapat.
"Atas nama siapa, mbak?" Tanya Mbak Penjaga Toko.
"Discover, mbak." Jawab Jess dengan pelafalan discover versi bahasa inggris.
"Oke, mbak. Nanti dikirim kacanya ke Discover." Kata Mbak Penjaga Toko sambil menulis di bukti pembayaran.
Gw terkikik menahan tawa. Jess sampai menyikut sambil mesem-mesem menahan tawa juga. Ternyata Mbak Penjaga Toko ini menulis Discover dengan ejaan sunda asli, yaitu "Diskaper". Ealah, mbak ini loh. Nama udah oke, kok diubah-ubah.

November 2011, belum genap sebulan Discover di ruko, Way memutuskan untuk berpisah dari kami. Dia keterima kerja di Shanghai, kurang gaul apa si Way ini coba? Tapi tqk mengapa, Way punya mimpi dan tanggung jawab yg lebih besar sebagai cowok.

Gw dan Jess melanjutkan Discover berdua aja. Ke kantor berdua, di kantor berdua, cari barang untuk mengisi kantor berdua, ketemu klien berdua, sarapan sampai makan malam pun berdua. Hampir 24 jam berdua. Mungkin orang-orang akan bingung, dimana ada Jess disitu ada gw. Begitu juga sebaliknya.

Menjalankan Discover di bulan-bulan awal itu tidak mudah, kami masih terkendala sumber daya dan kemampuan. Dari sini kami jadi tersadar bahwa nekat dan selembar ijazah S1 ternyata tidak bisa membesarkan Discover. Maka beberapa keputusan pun diambil, antara lain dengan mendaftarkan Discover sebagai CV dan mendaftarkan diri kami di MBA ITB.

Lompatan-lompatan bulan selanjutnya sangat extrem bagi kami. Mulai dari rapat dengan CEO-CEO yg usianya setara dengan ayah kami, hingga tantangan untuk mulai merekrut arsitek untuk bekerja di Discover.

Pun begitu, saat kami memulai MBA. Gw yg biasanya tiap hari ketemu Jess, tiba-tiba baru ketemu 3 hari kemudian di kampus. Apa yg terjadi? Kami berteriak dan berlari dari ujung satu ke ujung lainnya untuk menyambut satu sama lain. Kami berpelukan di tengah lobi. Bukan lebai, tapi memang begitu adanya. Hahahaha.

Hari-hari selanjutnya memang lebih naik dan turun. Tapi yg namanya hidup, tetap saja harus dijalani.